Aku bukan kelelawar
Yang kuasa kepakkan sayap sepanjang malam
menemanimu
habiskan seluruh waktu
aku bukanlah binatang malam
yang mampu bernyanyi
mengiringmu
hilangkan sunyi sampai datang pagi
Aku pun bukan kunang-kunang
yang ‘kan terus bersinar
mendampingimu
terangi celah-celah kegelapan
Aku hanya manusia
yang tiap malam memandangimu dengan jendela terbuka
yang memintamu selalu bercahaya
yang menginginkanmu selalu purnama
Baca Selengkapnya...
Kepadaku, Aku Bertanya
Wahai diri!
Di mana dirimu yang rajin mengaji?
Kenapa jarang kudengar lagi lantunan ayat-ayat darimu?
Kenapa jarang kulihat kau sentuh kitab sucimu?
Wahai diri!
Di mana dirimu yang gemar berjama’ah?
Kenapa di shaf longgar itu tak lagi kutemukan kau dengan mudah?
Kenapa tak kudengar lagi dzikirmu di masjid dan mushalla?
Wahai diri!
Di manakah kau yang senang shalat malam?
Kenapa tak ada lagi tangisanmu di akhir malam?
Kenapa semakin sering kau masih terlelap saat adzan shubuh berkumandangan?
Wahai diri!
Di mana dirimu yang suka berpuasa?
Kenapa tak lagi kerap kau santap dengan lahap berkah berbuka?
Kenapa?
Wahai Fikri!
Di mana kau kini mengaji?
Masihkah kau shalat berjama’ah?
Masih seringkah kau suka shalat malam?
Kapan lagi kau akan puasa sunnah?
Baca Selengkapnya...
Date: 27 September 2009
Label: Puisi
Label: Puisi
Malam Pertama di Bulan Ramadhan
S
eperti biasa, menyambut Ramadhan, senja berwarna jingga. Mesra. Awan mengaraknya keliling dunia, menebarkan suasana bahagia. Angin berhembus, berlarian di antara canda tawa manusia, tua muda, laki-laki perempuan, besar kecil, yang sedang berjalan di pematang. Diiringi percik aliran air parit di kanan kiri. Ditemani burung-burung manyar yang berterbangan di cakrawala.Aroma padi bercampur bau lumpur sawah menambah keagungan Allah.
Adzan berkumandang. Bersahut-sahutan. Mengusir keheningan. Mewakili alam ucapkan, “Marhaban Yaa Ramadhan.”
***
Di suatu tempat nan jauh dari jangkauan tatapan manusia. Jauh di luar sana, dua malaikat asyik berbincang-bincang dalam perjalanan mereka menyusuri jalan setapak menuju pintu gerbang di salah satu ujungnya. Gerbang yang akan membawa mereka ke bumi. Setibanya di luar gerbang, mereka dikagetkan oleh sesosok tubuh yang telah menunggu mereka sejak tadi.
“Hei!! Apa yang kamu lakukan di sini? Mau mencuri pembicaraan para malaikat?!” ucap Malaikat Pencatat Kejahatan setengah membentak.
“Santai, bos! Jangan emosi! Apakah tidak boleh jika aku mengunjungi sahabat lama,” jawab Iblis. “Sudah lama aku menunggu di sini, tapi malah disambut dengan amarah.”
“Sahabat?? Jangan sekali-kali kamu ucapkan lagi kata itu di depan kami,” gertak Malaikat Pencatat Kejahatan.
“Sudah. Nggak usah memperdulikan ucapannya. Ayo! Kita lanjutkan berjalanan,” sembari berucap, Malaikat Pencatat Kebaikan menarik tangan sahabatnya meninggalkan Iblis.
“Eh… Ehhh! Tunggu! Tunggu dulu!”
Teriakkan Iblis menghentikan langkah mereka. Keduanya menoleh ke arah Iblis yang sedang mendekat.
“Kalian mau ke mana?”
Sejenak keduanya memandang tepat ke mata Iblis, seakan-akan berkata, kamu kan sudah tahu pekerjaan kami. Sejurus kemudian mereka berjalan lagi.
“Tunggu! Aku ikut!” Iblis berlari kecil mencoba menyusul dua malaikat yang tidak perduli dengan perkataan dan keberadaannya. “Kita kan bekerja bareng. Kalian mencatat perbuatan manusia dan aku yang menggoda mereka.” Iblis mempercepat langkah. “Sesekali kita berangkat bareng tidak masalah, bukan?” Lanjutnya.
Namun, kedua malaikat itu tetap saja tidak peduli. Mereka terus saja melangkah.
“Jangan cepat-cepat! Pekerjaan yang dilakukan dengan tergesa-gesa biasanya akan sia-sia.”
“Tutup mulutmu! Jangan banyak omong! Kami tidak punya waktu meladeni kamu. Sekarang tanggal 1 Ramadhan, kami harus segera turun ke bumi untuk mencatat amalan apa saja yang dilakukan manusia pada hari ini.”
“Nah! Justru karena sekarang tanggal 1 Ramadhan, kalian harus lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas. Jangan sampai mencelakakan diri sendiri.”
“Terutama kamu, Malaikat Pencatat Kebaikan,” lanjut Iblis, tangannya menunjuk ke arah Malaikat Pencatat Kebaikan yang berjalan di sebelah kanan Malaikat Pencatat Kejahatan. Sementara, ia berjalan paling kiri. “Jangan sampai kamu bernasib sama seperti moyangmu, Harut dan Marut. Apalagi, kalau bernasib seperti diriku.”
“Na’udzubillah min dzalik,” ujar kedua malaikat serentak.
“Apa maksudmu mengancam sahabatku?” Tanya Malaikat Pencatat Kejahatan dengan tangan siap menghantam muka si Iblis. Akan tetapi, sahabatnya segera menahannya.
“Sudahlah. Tak usah menghiraukannya. Tugas sudah menunggu kita,” sela Malaikat Pencatat Kebaikan datar.
Keduanya pun kembali berjalan. Kali ini, Iblis hanya memandang dari tempatnya berdiri.
“Malaikat Pencatat Kebaikan! Hati-hatilah! Kamu akan celaka jika tidak mau mendengar nasehatku. Ingat! Kamu bias bernsib sial seperti Harut dan Marut, menjadi manusia penuh dengan dosa dan nafsunya. Pikirkan itu!” teriak Iblis keras-keras.
Tiba-tiba, Malaikat Pencatat Kebaikan terdiam. Tertegun, mematung. Sejurus kemudian, ia membalikan badan berjalan mendekati Iblis.
“Kamu mau ke mana?” sergah Malaikat Pencatat Kejahatan memegang tangan Malaikat Pencatat Kebaikan erat-erat, tapi tak berhasil menahan langkah kaki sahabatnya itu.
“Aku ingin dengar sebenarnya apa yang ingin dikatakan Iblis itu?” ucapnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Malaikat Pencatat Kejahatan.
“Masya Allah! Apa-apaan kamu ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kita tak usah mempedulikannya.”
“Kamu tunggu sebentar. Mungkin saja perkataannya ada benarnya?”
“Nah begitu, donk! Biar lebih enak ngobrolnya, bagaimana kalau sambil duduk-duduk di sa—.”
“Dasar Laknatullah!”
Belum sempat Iblis menyelesaikan kalimatnya. Malaikat Pencatat Kejahatan mendorongnya sampai terjungkal.
“Awas, kalau kamu mempermainkan kami!” lanjutnya
“Sabar… Sabar…!” ujar Iblis sambil bangkit. “Mari kita bicara di bawah pohon itu. Biar pikiran kita lebih jernih,” ajak Iblis menunjuk sebuah pohon besar nan rindang tak jauh dari tempat mereka.
***
“Begini,” kata Iblis memulai pembicaraan. Ia duduk menghadapi dua malaikat, layaknya seorang guru yang sedang memberi wejangan kepada muridnya. Dengan satai ia melanjutkan kalimat demi kalimat, “ Seperti kamu katakana barusan,”—menunjuk Malaikat Pencatat Kejahatan—,” sekarang adalah tanggal 1 Ramadhan.”“Ya,” cetus kedua malaikat berbarengan.
“Apa yang biasa dilakukan oleh manusia di saat-saat seperti ini?” Tanya Iblis.
“Mereka sedang rajin-rajinnya beribadah, shalat berjama’ah di masjid, tadarrus al Qur’an,….”, jawab Malaikat Pencatat Kejahatan.
“Untuk itulah kami harus segera turun ke bumi agar setiap amalan mereka dapat kami catat. Bukan malah menghabiskan waktu bersama kamu tanpa guna seperti ini. Sekarang langsung saja ke pokok pembicaraan.”
“Baiklah,” sembari memperbaiki posisi duduknya, ia melanjutnya perkataannya, “Coba bayangkan seandainya sekarang kamu mencatat semua amalan baik manusia yang dikerjakaan hari ini dan telah selesai, tentu buku laporanmu akan sangat tebal, bukan? Karena saking banyaknya manusia yang beribadah pada hari ini.”
“Ya, tentu,” jawabnya singkat.
“Sedangkan kita semua mafhum dengan perilaku manusia diluar bulan Ramadhan. Dan bayangkan saat kamu melaporkan pekerjaanmu kepada Allah dalam pertemuan yang dihadiri oleh seluruh malaikat. Kamu berjalan menghadap Allah, menyerahkan buku laporan yang tebal. Setelah memeriksa sebentar, tiba-tiba muka Tuhanmu berubah merah, marah. Dan bertanya, ‘Kamu mau menipu Saya?’ Apa jawabmu?”
“Tidak. Tidak Tuhanku! Tidak mungkin hamba selancang itu.”
“Bagus!” Puji Iblis. “Lalu, Dia bertanya lagi, ‘Ini buku apa?’ seraya menunjuk ke arah buku laporan yang baru saja kamu serahkan.”
“Itu catatan amal baik yang dilakukan manusia pada hari ini, Tuhanku. Begitulah jawabku.”
“Namun, kamu mendapati Tuhanmu lebih marah lagi. Dan dengan nada tinggi, ia berkata,’Hari ini??? Kamu bilang hari ini??’ setelah berkata seperti itu, Ia meletakkan dengan kasar sebuah buku yang tebalnya hamper sama dengan tebal buku laporan yang baru saja kamu serahkan. Dan bertanya lagi, ‘Kamu tahu, ini buku apa?’ apa jawabmu?”
“Sesungguhnya Tuhanku lebih mengetahui daripada hamba.”
“Hmmmm….. ‘Ketahuilah, itu adalah buku kumpulan amal baik manusia beberapa bulan terakhir. Mana mungkin tebalnya hamper sama dengan buku amal hari ini, hari ini. Betapa tidak kamu memanipulasi data amalan manusia. Kamu membohongi saya!’ Dan saat Tuhanmu berkata seperti itu, coba bayangkan kira-kira apa yang dilakukan jutaan malaikat yang ada di sana? Tidakkah mereka akan mencacimu, menghinamu?”
“Tidak! Tidaakkk mungkin!” suara Malaikat Pencatat Kebaikan terdengar ketakutan. “Allah pasti akan memberiku kesempatan untuk menyampaikan alas an.”
“Alasan? Alasan mana yang lebih logis yang akan kamu pakai daripada alasanku bahwa api lebih mulia daripada tanah yang membuat aku terusir dari surga.”
“Tidaaaakkkkk!!!!”
Melihat hal itu, Malaikat Pencatat Kejahatan segera menendang Iblis dan berujar,” Dasar Iblis, Pembohong besar!”
Dari kejauhan Iblis itu berteriak-teriak, “Kamu mau pakai alasan apa? Kamu mau bilang bahwa di bulan Ramadhan manusia menjadi lebih rajin beribadah. Itu akan mencelakakan kamu sendiri karena manusia tidak terus-menerus rajin beribadah di bulan Ramadhan. Haaa…haaaaaaaa..haaaaaaaaaa…”
Malaikat Pencatat Kejahatan duduk kembali, memandangi wajah sahabatnya yang terlihat begitu takut dan sedih. Keheningan sejenak menyelimuti mereka.
“Dasar manusia!” teriak Malaikat Pencatat Kebaikan secara tiba-tiba mengagetkan sahabatnya yang masih tidak percaya atas tingkah lakunya. “Bisanya hanya menyengsarakan makhluk lain.”
“Sudahlah! Jangan hiraukan perkataannya. Bukankah itu yang kamu katakan kepadaku?’
“Tapi, kata-katanya ada benarnya. Bagaimana aku harus menjelaskan kepada Allah jika ia benar-benar menanyakannya? Dan kita juga tahu bahwa manusia hanya rajin beribadah di awal-awal bulan Ramadhan saja. Ganti hari, masjid-masjid semakin sepi. Malam semakin sunyi, tanpa suara manusia mengaji.”
***
Kembali ke bumi. Ia terlihat biru bercahaya. Anggun. Teduh. Tampak bersinar dilihat dari angkasa. Jauh di bawah sana, jutaan orang telah bangga karena mengira kebaikan-kebaikan yang dilakukan pada hari ini dicatat sebagai kebaikan di sisi Tuhan mereka.
Date: 16 Agustus 2009
Label: Cerpen
Label: Cerpen
Kutitipkan Cintaku
Ingin kutitipkan cintaku kepada awan
diarak keliling dunia, agar semua orang tahu, juga kamu
tapi aku takut, cintaku kan tampak suram di antara putih sucinya mereka
inginku titipkan cintaku kepada angin
tapi aku ragu, kalau-kalau angin itu berbalik arah
berkhianat, membawa cinta untuk menyakitimu dan menyakitiku
Baca Selengkapnya...
diarak keliling dunia, agar semua orang tahu, juga kamu
tapi aku takut, cintaku kan tampak suram di antara putih sucinya mereka
inginku titipkan cintaku kepada angin
tapi aku ragu, kalau-kalau angin itu berbalik arah
berkhianat, membawa cinta untuk menyakitimu dan menyakitiku
Baca Selengkapnya...
Date: 11 Agustus 2009
Label: Puisi
Label: Puisi
Lomba Mengulas Karya Sastra

D
eadline: 10 Agustus 2009
Sumber: Ditjen Mandikdasmen
Motto
Menyelami sastra, Memperluas cakrawala bahasa,Memperkokoh Budaya Bangsa.
Persyaratan Peserta
- Peserta adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/SMK/MA dibuktikan dengan Surat Keterangan dari Kepala Sekolah.
- Belum pernah lolos dalam 25 besar LMKS sebelumnya.
Persyaratan Tulisan
- Tulisan adalah karya asli dan belum pernah dipublikasikan di media manapun.
- Bentuk ulasan dapat berupa esai dengan penyajian yang jelas, enak dibaca dan ditunjang kepustakaan yang memadai.
- Panjang tulisan 5 – 20 halaman kuarto, 1,5 spasi (1500 – 6000 kata).
- Tulisan merupakan ulasan terhadap salah satu buku sastra yang telah ditetapkan (lihat daftar).
- Peserta diharuskan mengulas sebuah buku sastra secara utuh, bukan hanya satu puisi/cerpen. Membandingkan dengan karya lain diizinkan.
- Peserta boleh mengirim lebih dari 1 (satu) naskah, dengan catatan hanya satu naskah terbaik yang akan dipertimbangkan menjadi pemenang.
- Di halaman akhir tulisan (halaman terpisah), ditulis identitas dan alamat lengkap penulis serta no. telepon/HP yang dapat dihubungi.
Pengiriman Tulisan
- Tulisan sebanyak 3 rangkap dimasukan amplop, pada bagian luar ditulis “LMKS PROGRAM REGULER 2009” diantar langsung atau dikirim paling lambat tanggal 10 Agustus 2009 (stempel pos).
- Tulisan dikirim ke alamat :
Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kegiatan Pembinaan Pendidikan Estetika pada Subag RT. Bagian Umum
Setditjen Mandikdasmen, Gedung E Lantai 14,
Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270.
Pengumuman Pemenang
- Panitia akan memilih 15 peserta terbaik untuk mengikuti seleksi final di Jakarta.
- Selama mengikuti seleksi final di Jakarta, panitia menyediakan biaya transportasi dan akomodasi.
- Pemenang LMKS 2009 akan diumumkan pada tanggal 19 Oktober 2009.
Hadiah
- Panitia menyediakan hadiah berupa uang tunai sebagai berikut :
- Pemenang 1 RP. 6.500.000,-
- Pemenang 2 RP. 6.000.000,-
- Pemenang 3 RP. 5.500.000,-
- Pemenang 4 RP. 5.000.000,-
- Pemenang 5 RP. 4.500.000,-
- Pemenang 6 s.d. 10 RP. 4.000.000,-
- Pemenang 11 s.d. 15 RP. 3.500.000,-
- Pajak hadiah sebesar 15% (PPH psl 21) ditanggung pemenang.
- Kepada semua peserta akan diberikan piagam penghargaan.
Ketentuan Panitia
- Depdiknas berhak menerbitkan dan menggandakan naskah yang terpilih.
- Keputusan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Lain-lain
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi panitia penyelenggara :Kegiatan Pembinaan Pendidikan Estetika Jakarta Subag RT, Bagian Umum Setditjen Mandikdasmen.
Telp. (021) 5725616, atau 5725061 (pesawat 6402)
Email : estetika.mandikdasmen@yahoo.co.id
Untuk mengetahui Daftar Pilihan Buku untuk diulas peserta, silakan kunjungi situs: www.mandikdasmen.depdiknas.go.id. Baca Selengkapnya...
Date: 22 Juli 2009
Label: Lomba
Label: Lomba
Langgan:
Entri (Atom)

