Angin Gunung

Rumah Sastra: Angin Gunung
Angin di gunung
Turun menurutkan mendung
Gemuruh, gemrungsung

Menghalau kerbau
terundung galau
Di taman-taman terserang kemarau

Menebar dingin
Membekukan ingin

Angin gunung
Tiba menyeka
sisa tetes kata bahagia

Kerbau-kerbau itu
terpaksa berperilaku
Berlarian tak tentu
Saling tubruk
Rasakan lara dalam bisu

Kerbau-kerbau
Girang tinggalkan tanah hijau
menuju cerah mata harimau

9 komentar:

the.way mengatakan...

waah...
bagus banget pilihan katanya..

tapi aku ga ngarti nih..
hehehe

rizka mengatakan...

ga ngerti maksudny..
hahahahaa,, :-D

buwel mengatakan...

puisi yang bagus...
padanan kata serasi dan maknanya dalem lagi...
siiip

achoey mengatakan...

Ku merindu
angin itu :)

-teRJaGa- mengatakan...

kasihan tu kerbau.. :-D

wi3nd mengatakan...

huuuffffff..suda lama sekalee diriku tak merasakan an9in 9unun9..
rindu serindu rindunya.. :'( :'(

Suara Anda mengatakan...

puisi yang bagus frend..

Hanif mengatakan...

salam ukhuwah, luar biasa antum buat karya :-D

Matroni el-Moezany mengatakan...

aku ingin mengomentari dengan puisi, karena memang dengan puisi kita bisa berteman,


Sela-Sela Yang Tak Kuciptakan Sendiri

Rasa dalam bahasa setiap cela terbaca

Di kedalaman luas waktu
Tak tertera dengan sederhana
Oleh setetes suara di sisa usia

Sehabis makan malam
ikan ayam di dada
Mencela roti bangsa
tak sabar meninggalkan susah

Tak menemukan angka matahari
di ruang jiwa aku lihat samudera mengalir dalam darahku

Ikan, kata dan kegembiraan
Mengisi sela tak kuciptakan

Partikel bahasa nyata, menemui ruang tulang kami
Seperti sedang lapar membutuhkan semesta

Selembar perjalanan tertulis

seperti kertas kosong
menanam kata
Bersayap beribu rasa
Beranting kelembutan
Berdaun kesejukan
Berbuah kebahagiaan

Jogja, 2009

Poskan Komentar

Harap memberi komentar yang sopan.

 
Rumah Sastra © 2009 | Diperkuat oleh Blogger | Disain oleh Matematika Anak Sekolah | RSS: Posting-Komentar