
Suasana sunyi. Hening. Tak ada derap kaki manusia berlalu lalang. Tak ada gelak tawa manusia-manusia yang bercanda riang. Bukan tak ada manusia di sini. Di ruangan ini, orang-orang berlalu lalang dalam langkah tanpa suara. Ya, aku tak mendengar suara langkah mereka. Atau, aku memang tak mau mendengarnya. Sebab, sejak tadi, sejak aku ada di ruang ini, pandanganku hanya tertuju pada seorang gadis. Pada wajahnya, tepatnya. Aku tak peduli dengan sekelilingku.
Perlahan, aku digiring kesunyian mendekati gadis itu. Hingga kudapati wajahnya terlihat jelas dari tempatku berdiri kini. Wajah yang tak asing, cantik, tapi tak kukenal.
“Hai!” sapaku pelan mencoba memulai pembicaraan.
Di luar dugaan, gadis itu diam saja. Sedikit pun tak dipalingkannya wajah ayu itu ke arahku. Kutunggu sesaat, tak jua kudapati jawaban. Ya, gadis itu masih saja diam. Entah, ia memang tak mendengar, atau pura-pura tak mendengar.
“Sejak tadi aku memperhatikanmu. Tatapanku tak mau lepas darimu walau sedetikpun,” kukatakan apa adanya. “Awalnya, aku tak tahu mengapa. Sesaat tadi aku baru menyadarinya. Ya, aku baru menyadari bahwa kau sangat mirip dengan Grace,” kukatakan dengan jujur apa yang kurasakan saat itu.
Grace adalah kekasihku, mantan kekasih tepatnya. Ah, atau apalah namanya. Dia adalah wanita terbaik, tercantik yang pernah aku kenal. Sayang pagi ini aku mendapat kabar bahwa ia telah dipanggil oleh Tuhan. Apalah daya manusia. Namun, sebagai laki-laki tak akan kuperlihatkan kepedihan ini. Biarlah Tuhan Kudus saja yang mengetahui betapa dalam derita yang Ia tancapkan di hatiku.
Aku masih memandangi wajahnya. Gadis itu masih tak memperdulikan keberadaanku di dekatnya. Ia masih diam, bahkan semakin diam—hingga kurasakan kesendirian yang dalam. Mungkin karena itu aku lebih berani menatapi wajahnya yang mempesona. Kutatapi lekat-lekat wajah itu. Sungguh! Ia begitu mirip dengan kekasihku. Aku tak bisa menyangkalnya. Aku pun tak bisa menolak sebuah rasa. Suka, mungkin. Atau cinta, mungkin. Aku tak tahu. Atau mungkin sekedar ingat kenangan-kenangan bersama Grace.
Aku masih memperhatikan gadis itu. Dan ia pun masih sama, tak peduli akan keberadaan dan perkataanku. Kudapati wajahnya masih mirip kekasihku. Tapi,….
“Hanya saja,..Ah,…,” kucoba membuang segala rasa yang mengganggu pikiranku. “Wajahnya begitu indah. Ya, jujur, ia lebih cantik darimu,” lanjutku
“Sayang kau tidak sempat melihat wajahnya. Di setiap wajahnya akan kau dapati keteduhan, kesejukan, dan kedamaian. Tak ada cahaya seterang pancaran air muka di wajahnya. Kau akan dapati pula kelembutan dan kesetiaan tiada tara. Sungguh! Jika kau melihatnya walau hanya sekejap, kau akan mengakui kelebihannya atas dirimu,” ujarku. Mulut ini berkata begitu saja tanpa mampu kehentikan. Entah apa yang sedang terjadi pada diriku.
“Andai kau melihatnya, melihat senyumnya,”—seketika mataku tertuju pada bibir merah gadis itu, dan kutemukan senyuman yang selalu kudapati di kedua bibir Grace—“Senyumnya… Puji Tuhan yang telah menciptakan senyum manis di kedua bibirnya. Senyum yang mampu hilangkan nestapa. Namun, senyum itu pula yang telah menyembunyikan deritanya dari pengetahuanku. Ya, derita atas penyakit yang ia alami. Penyakit yang membuatnya pergi.”
Kutatapi dalam-dalam gadis itu, tak ada perubahan di raut wajahnya. Tidak juga di senyum kecilnya. Aku diam. Berdiri. Gadis itu pun masih diam di tempatnya, tidak beranjak sedikitpun. Sejenak kubiarkan lagu-lagu yang mengalun menggema di lorong-lorong kelabu hatiku. Sejenak kubiarkan kesedihan dan kepedihan mengisi kekosongannya. Semakin lama, semakin kurasakan ketenangan. Maka, kubiarkan lagu-lagu itu mengalun lebih jauh menelusuri ruang hati. Kubiarkan pula duka mengisi hatiku lebih dalam.
Aku masih dapati senyum di bibir gadis itu, gadis yang mirip kekasihku. Aku ingin ikut senyum, tapi tertahan. Bibirku tiba-tiba kaku.
“Dan…. Jika kau pernah bertemu dengannya,” lanjutku dengan suara yang mulai terbata-bata. “Kau akan disambutnya dengan kehangatan, keriaangan…. Serta kemanjaan….”
Kini, aku benar-benar tak mampu berkata lagi. Kenangan-kenangan bersama Grace silih berganti hinggap di pikiranku.
Kucoba tenangkan diri, kuhirup nafas dalam-dalam. Lalu,….
“Kau yang mirip bidadariku. Kau….”
Tiba-tiba kurasakan telapak tangan mendarat pelan di pundak kananku. Meskipun pelan, tapi mampu membuatku tersentak.
“Aku turut berduka-cita,” ucap Yoga, sahabatku, sembari memegang kuat pundakku. “Lihat wajahnya, masih cantik. Nggak berubah sedikitpun,” lanjutnya berbisik di dekat telingaku.
Saat itu, aku baru sadar di mana aku berdiri. Di depanku tergeletak tubuh Grace di dalam peti. Kucoba menatap jauh-jauh, tapi pandanganku terhenti tepat wajahnya yang semakin pucat. Seketika darahku mengalir deras. Mendesir kencang. Tubuhku mulai bergetar.


4 komentar:
Tes..tesss (muncul fotonya nggak, ya?)
"Sabarlah menunggu di surgaNya, wahai Kekasihku"
keren bosss
postingannya.... runut banget
fiq..mba yakin dia tetap setia menantimu di taman syurga Allah..amin..
penamu selalu menyentuh hati..
Frend, kok aku buka blogmu tapi nggak bisa baca2 puisinya ya?
kok gelap gitu semuanya..
Poskan Komentar
Harap memberi komentar yang sopan.