Aku Kelaparan

Aku Kelaparan
Dengan jelas kudengar
Adzan-adzan keras menyebar
Tapi hatiku tidak bergetar
Yah, benar
Sedikitpun tak bergetar

Mungkin karena aku lapar

Aku pun mengayuh sepeda
Membelah gelap ‘Isya
melawan dinginnya

Sekali aku berhenti
bukan, sesekali aku berhenti
Mencoba lebih mengerti
ke mana aku harus pergi
memuaskan lapar dahaga ini

di tempat-tempat imi
Warung makan
Warung kelontong
Lesehan
Burjo
Yang berjejer di pinggir jalan


Tapi, aku ragu untuk memasuki
Apalagi ikut menikmati

Aku beku
Dalam lapar kegelapanku

(Kolomkita)

3 komentar:

buwel mengatakan...

wooow menggigit...

Anazkia mengatakan...

Duh, memikir aku membacanya. Terfikir aku akan ceritanya.

dinoe mengatakan...

hee..he..berhenti sejenak..dambil memesan makanannya...he..he..nice puisi...

Poskan Komentar

Harap memberi komentar yang sopan.

 
Rumah Sastra © 2009 | Diperkuat oleh Blogger | Disain oleh Matematika Anak Sekolah | RSS: Posting-Komentar