
Dengan jelas kudengar
Adzan-adzan keras menyebar
Tapi hatiku tidak bergetar
Yah, benar
Sedikitpun tak bergetar
Mungkin karena aku lapar
Aku pun mengayuh sepeda
Membelah gelap ‘Isya
melawan dinginnya
Sekali aku berhenti
bukan, sesekali aku berhenti
—Mencoba lebih mengerti
ke mana aku harus pergi
memuaskan lapar dahaga ini–
di tempat-tempat imi
—Warung makan
Warung kelontong
Lesehan
Burjo
Yang berjejer di pinggir jalan–
Tapi, aku ragu untuk memasuki
Apalagi ikut menikmati
Aku beku
Dalam lapar kegelapanku
(Kolomkita)


3 komentar:
wooow menggigit...
Duh, memikir aku membacanya. Terfikir aku akan ceritanya.
hee..he..berhenti sejenak..dambil memesan makanannya...he..he..nice puisi...
Poskan Komentar
Harap memberi komentar yang sopan.