Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009

Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009
Deadline: 30 September 2009
Sumber: Langit Perempuan
Yang dibutuhkan bukan hanya bahan yang bagus, tetapi juga kecakapan mengolahnya. Tuntutan ini berlaku bukan hanya dalam penulisan sastra, tetapi juga dalam telaah sastra, bahkan dalam kegiatan tulis-menulis pada umumnya. Jika bahan sastra Indonesia bisa digali dari pelbagai penjuru nusantara, bahkan belahan bumi lain, begitu juga seharusnya dengan kecakapan menuliskannya. Sejenis keahlian yang kami percaya akan membuat sastra Indonesia berkembang dan berdiri sejajar dengan sastra-sastra dari belahan bumi lainnya.

Salah satu kenyataan yang harus kita terima adalah telaah sastra tidak tumbuh subur di negeri agraris ini. Bukan hanya karena hampir tidak ada media yang secara khusus memuat telaah sastra, tetapi juga kurangnya rangsangan agar kelak ia bisa tumbuh subur, cemerlang, dan inspiratif. Untuk merangsang kelahiran telaah sastra yang diharapkan, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan kembali sayembara telaah sastra. Mengambil tema “Kepengrajinan (craftmanship) dalam Sastra Indonesia Mutakhir” sayembara telaah sastra kali ini mengajukan sejumlah pertanyaan pemancing:

Bagaimana pencapaian sastra kita dalam 10 tahun terakhir ini? Bagaimana kecakapan mengolah gagasan di kalangan penulis sastra mutakhir kita? Apakah kecakapan ini hadir secara konsisten atau hanya kebetulan? Bagaimana kecakapan ini membedakan mereka dari pendahulu mereka? Bagaimana percobaan bentuk-bentuk baru berkelindan dengan muatan lokal yang ada? Bagaimana pula para penulis sastra terkini memandang para pendahulu mereka dari khasanah nusantara dan dunia? Terobosan apa saja yang mereka lakukan? Dan seterusnya.

Adapun Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009 mempunyai syarat dan ketentuan sebagai berikut:

Syarat-syarat:
Telaah harus karya asli, bukan terjemahan, saduran, atau jiplakan. Buku-buku sastra yang ditelaah adalah yang terbit dalam 10 tahun terakhir (1998—saat ini) Telaah harus membahas satu karya sastra (buku tunggal atau bagian dari bunga rampai). Belum pernah dipublikasikan atau dipresentasikan di media atau forum mana pun. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik. Tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara serupa. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah telaah. Panjang telaah paling sedikit 20 halaman dan diketik dalam kertas format A4 , 1,5 spasi, Times New Roman 12. Naskah hanya berisi judul dan isi telaah. Biodata peserta ditulis di dalam lembar terpisah. Lima salinan telaah dan biodata peserta dikirim ke:

Panitia Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009
Dewan Kesenian Jakarta
Kompleks Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya No. 73
Jakarta 10330

* Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2009 (stempel pos atau diantar langsung).
* Para pemenang akan diumumkan di Taman Ismail Marzuki pada akhir Desember 2009.
* Karya para pemenang akan dibukukan.
* Sayembara tertutup untuk anggota DKJ periode 2006—2009.
* Keputusan Dewan Juri tidak bisa diganggu gugat dan tidak ada surat- menyurat.
* Pajak ditanggung pemenang.

Hadiah:
Juara I : Rp 20.0000.000, -
Juara II : Rp 15.000.000,-
Juara III : Rp 12.500.000,-
Tujuh besar : Rp 2.000.000,-

Kriteria Penjurian:
1. Ketajaman dalam menggali kepengrajinan karya
2. Telaah yang inspiratif dan orisinal
3. Argumentasi yang meyakinkan
4. Keberanian menafsir dan kesegaran perspektif

Dimas Fuady Humas Dewan Kesenian Jakarta >> communication@dkj.or.id / dimas_273@yahoo.com
jl. cikini raya 73 jakarta 10330 indonesia ph. +62 21 319 37639, 316 2780, 398 99634 fax. +62 21 319 246 616

Klik www.dkj.or. id untuk melihat agenda kegiatan Dewan Kesenian Jakarta.
Baca Selengkapnya...

Hampir Semua Seperti Kami

Rumah Sastra: Hampir Semua Seperti kami
Malam
siang
Sama

Auman binatang jalang menggaung
Merasukkan ke jiwa kami rasa bingung

Di balik kegelapan
Kami hanya mengintip
Tanpa gerak-gerik
Tanpa berkedip
Tanpa berkutik
Tanpa cahaya
Tanpa bicara
Tanpa suara
Sebab daya tak kami punya

Binatang jalang terus meraung
Membuat kami semakin bingung

Dan…….
Kami hanya memandang
Tanpa tahu mana kawan
Tanpa tahu mana lawan
Sebab gulita melanda hutan

Binatang jalang hanya meraung

Kami bingung
Kami linglung

Baca Selengkapnya...

Aku Tak Tahu

Rumah Sastra: Aku tak Tahu
Ombak mengalun debar-debur
melambaikan lentik tangannya
Mengajak
Merayu
Mengharap aku
pergi bersama menjamah samudera

Ombak menggunung kejar-mengejar
mendekati aku
bergantian merayu
bisikkan untaian harapan maya
pudarkan khayalku tentang surga

Kudiam berdiri
Ia membelai telapak kaki

Kuhampiri
ia berlari

Kukejar
ia menghindar

Coba kurengkuh
Ia menjauh

Semakin kuturut
semakin aku takut

Tanpa kusadari
Aku di tengah lautan, kini

Kuterapung
dalam bingung

Tak tahu tujuan pasti
Aku lupa tujuan pasti

Ombak bergulung
Menerkam
Menikam
Menghantam

Bila diam
aku pasti tenggelam

Ingin pergi
Aku tak mampu lari

Aku tak tahu asal
Aku tak tahu tujuan
Baca Selengkapnya...

Akhirnya!!!

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuhu.
Akhirnya!!!
Setelah sekian lama tidak menghirup udara dunia maya, tak terasa sudah lebih dari sebulan, akhirnya sekarang dapat kembali merasakan hangatnya hembusan nafas silaturahim dalam naungan cahaya ukhuwah. Ya, sejak Januari, tepatnya sejak menghadapi UAS, sampai sekarang saya disibukkan oleh banyak aktivitas. Mulai dari UAS yang baru berakhir pertengahan Januari, dilanjutkan herregistrasi, sampai kembali masuk kuliah dengan jadwal-jadwal baru yang beberapa di antaranya bertabrakan dengan kegiatan lain. Lalu, kesibukan mengemban amanat sebagai Mahasiswa Pendamping (MP) pada Program Pendampingan Keagamaan (PPK) yang tentunya tidak dapat ditinggalkan. Kemudian dengan adanya Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) I yang harus saya ikuti selama satu semester ke depan. Ditambah lagi kini saya sedang menunggu pengumuman penerimaan tutor yang belum saya ketahui kapan pelaksanaannya. Semua kegiatan itu benar-benar mengharuskan saya terliti dalam mengatur waktu, kapan harus ini dan kapan harus itu (kapan harus nge-net? ). Alhamdulillah, diri ini tidak melupakan kedudukan (sebagai hamba) di hapadapan-Nya, meski masih sering mempertanyakan keadilan, kehendak, dan keberadaan-Nya. Allah memberikan kesempatan ini, kesempatan yang terbaik (karena kehendak-Nya adalah yang terbaik, katanya), saya harap Ia menerima segala bentuk sujudku.

Sebelumnya saya ingin mengabarkan bahwa saya diberi Pe-eR (bukan RP) oleh Mba ‘Aini, bahkan ada dua, tapi belum satupun yang saya penuhi.

Huuuuuuuuuuh!! Dasar Wafiq pemalas


Bukan maksud saya tak menghargai, tak menghormati, dan segala rasa macam itu, tapi ini semata-mata karena kesibukanku (Maklumlah saya ini kan orang penting…. )

Yeeeeeee…..
Fiq, PR apaan sich yang dikasih ma mba ‘Aini?

Hehehehehehehehee……….. Pertanyaannya sulit banget, sesulit PRnya.

Lhooo…??? Kok…

Baca sendiri aja dech di Bukan Award Doank (Bukan Sekadar Award) dan yang satunya lagi di sini. Saya bingung njelasinnya.

Lhooo…. Kok….

Gimana nggak sulit dan bingung, bahasanya itu lhoo…. ANEH (joke2)

Bahasa cmna yang buat kamu x paham dan pening?

Nah…. Bahasa seperti itu yang tidak saya pahami.

Macam mana?

Ya itu, macam: berkongsi, kutag, jom, kot, x,….

Oooooo… Itu namanya bahasa Melayu—plus bahasa sms ? Kan mba ‘Aini asalnya dari Malaysia.

Bahasa Melayu atau Malaysia?

Tahu….

Menurut saya itu sich bahasa Malaysia, kalau macam bahasa Melayu saya bisa walau sedikit.

Mana buktinya? Coba, contohnya apa?

Contone kaya kiye: Inyong esih kepengin madang maning. Kaya kuwe, mbok?

Yeeeeee…. Itu bahasa Banyumasan!

Oooooo… Ngono tho …

Kalau itu bahasa Jawa. Udah, Fiq. Tulisannya dah terlalu panjang, entar yang baca bosan. PRnya mana?

PR yang mana??

PR dari mba ‘Aini! Saya nyontek, ya? Coz, saya juga dapat PR yang sama. Dan saya juga sama-sama bingung ma bahasanya. (joke2)

Huuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!

Mana PRnya, Fiq?! Cepetan!!

Tu…!!

Mana??

Tu di halaman sebelah.

Kalau begitu saya ke sana dulu, ya?

Mau ke mana?

Meng-copy PRmu di halaman sebelah itu.

Ngapain repot-repot pergi ke sana. Klik saja di sini.

Oooo.. gitu tho.. Yuk, kita baca bareng.

Eiiittttt… Entar dulu!!

Apaan lagi, Fiq?

Kalau masih banyak kekurangannya jangan dicela, ya!

Yup! Ayo, cepat!!!

Eh, entar dulu!!! Tutup dulu dengan salam
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuhu.
Baca Selengkapnya...

Jangan Terlena, Jangan Merana

Jika masa terang benderang
angin ramai berdendang
meneriakkan kebahagian
Jangan kaulupa

Bila tiba malam gulita
dengan gledek bersuara
remukkan telinga
Jangan terlalu kecewa

Ingat!!
malam ada masanya
siang pun jua

Mudah
Susah
Mudah

Saat terang jangan terlena
Bila gulita jangan merana
Jangan!!

Baca Selengkapnya...

Doaku yang Kumau

Doaku yang KumauKumau Kau
teteskan air padaku
biarpun setetes itu
kan sejukkan hati
kan jernihkan nurani

Saat nafas kemarau
berhembus seram menikam kalbu
dari setiap penjuru
yang kumau
Kautiupkan nyawa baru

Dan....
bila surya tak lagi bercahaya
bulan tak lagi terang
yang kuminta
Kau
menjaga api lilin jiwa

Bila hamba yang hina
memanjatkan doa
merayu manja
kuminta
Kauijabah segalanya

Baca Selengkapnya...

[Kuharap] Hanya Mimpi

tubuh tegar, pudar tersungkur
menyembah tanah, lemah

Guntur menggelegar
menampar
tapi, tubuh masih terkapar

Kilat berkelebat
menyayat segenap harap

Sekejap gelap
tak satupun tertatap

Bayu menderu
menyulut kemelut kalbu

Mata mengangkasa
lara, berkaca-kaca
Mencoba mencari cahaya

Dan hujan menyapa
menyiram, merawat luka

Terpejam

Tenang
Terang

Pun terbangun


(Kebarongan, 2007)

Baca Selengkapnya...

PR, tapi Bukan Page Rank

Sebelum membaca tulisan ini alangkah baiknya jika membaca yang ini terlebih dahulu.
Setelah memperoleh dua peer (PR) dari mba ‘Aini, ingin rasanya cepet-cepet menunaikannya sehingga hati ingin tenang. Akan tetapi, apalah daya diri mengatur takdir? Apalah daya melawan takdir-Nya? Alhamdulillah, Allah memberikan masa untuk menunaikan amanat itu, yakni saat ini. Meskipun dua berbalas satu saya harap mba ‘Aini tidak kecewa. Meskipun panjang berbalas singkat, bukan niat nak mengurangi rasa sayang dan hormat. Satu alasan PR tersebut harus saya selesaikan secepatnya adalah apa kata mba ‘Aini dalam blognya, “Award ini bukan sekadar tanda penghargaan tapi juga sebenarnya mengeratkan lagi silaturrahim antara teman2 blogger.”

Fungsi (matematika)


Sastra Religi

Oh ya, sebelumnya ingin saya utarakan bahwa urutan penyebutan nama tidaklah berdasar kategori tercantik/tertampan, terpandai, terbodoh maupun terjelek. (Tapi, dua yang terakhir boleh juga ...). Lalu berdasarkan pa, Fiq? Berdasarkan .... (Rahasia donk... Suka-suka saya donk... Ini kan blog saya )

Pertama, tentunya tak ada yang pertama kecuali untuk Mba ’Aini (Terima kasih atas award2nya). Meskipun telah saya sebutkan di awal, tapi tak ada keraguan untuk memasukkan namanya dalam urutan pertama. Dia adalah sahabat—sekaligus Kakak—pertama saya yang berasal dari dunia luar negeri seberang. Meski belum pernah bersua—kerna memang terlalu sulit nak bersua (tapi, itu bukan kemustahilan kan, mba?—dia sangat kat di hati. Dari tulisan-tulisannya di Qurratul’aini, kita kan temukan cahaya keanggunan dan keshalehahan dirinya. Bagi yang suka membaca puisi-puisi saya, maka tak da salahnya merengkuh kedamaian dari untaian kata-katanya dalam puisi-puisi karyanya. Dapat dijumpai pula artikel-artikel yang akan mendamaikan jiwa dan menambah ilmu kita. (Meskipun kadang saya harus membacanya denga pelan, huruf per huruf, kata per kata, tapi tak sedikitpun hinggap rasa penat). Tetap semangat Mba!! Semoga dapat melahirkan cendikia-cendikia muslim! (Dia seorang pengajar lhooo) Oh ya, sekarang ia sedang giat memperdalam ilmunya tentang poligami, yang dalam bahasa Malaysia, menurut Kamus Dewan, mempunyai makna yang sama dengan poligini dalam bahasa Indonesia
—meskipun kata poligini sendiri jarang digunakan di Indonesia.

Kedua, ada ’sahabat’ dari Indonesia, tetangga dekat, Edu-Kasih. (Aneh banget namanya...) Kepadanya saya ingin menyampaikan terima kasih sekaligus meminta maaf. Terima kasih atas keikhlasannya menerima saya sebagai penulis dalam blog EduKasih (Meskipun awalnya harus saya paksa dan ancam ). Sedangkan permintaan maafku untuk menebus kekhilafan saya yang menjadikan blog edukasih berantakan untuk beberapa waktu. Alhamdulillah, sekarang dah lumayan rapi. Semoga harapan kita segera terwujud!

Selanjutnya, tentulah untuk Hilal Asyraf, sahabatku yang selalu membagikan manfaat dengan karya-karyanya—dulu saat saya masih sering meng-update blog ini. Di dalam blognya, kita dapat menyelami dalamnya kata-kata yang dia rangkai dalam sebuah cerpen maupun sebuah novel serta artikel-artikel yang kan menyejukkan dan meneguhkan hati.(Hebat!!!!
). Kiranya akan lebih terasa nikmat jika kita langsung menimba air kedamaian dari blongnya, Langit Ilahi, dan Relasi. Dia menjadi inspirasiku untuk terus berkarya dan menerbitkan karya-karyaku dalam sebuah buku.

Kemudian untuk sahabat-sahabat yang tak terlupakan, sahabat-sahabat saya di MP PPK FST. Ada kang Didin dan sahabat-sahabat lainnya. Juga untuk tiga komentator ter-Atas—selengkapnya dapat dilihat di Top Komentator, selain mba ’Aini, ada ma2s, AR Eros, dan Jafriko

Saya mengundang sahabat-sahabat untuk mengunjungi blog baru di Wafiq.Jogja.Org—beberapa artikel-artikel non-sastra yang dulu pernah saya postingkan di sini saya pindah ke blog tersebut.

Baca Selengkapnya...
 
Rumah Sastra © 2009 | Diperkuat oleh Blogger | Disain oleh Matematika Anak Sekolah | RSS: Posting-Komentar